07
Apr

Pelatihan yang Diakui?

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Course, Geotechnic, Note and Discussion

Sekarang, di masa Covid ini, banyak bermunculan webinar dan pelatihan daring. Sampai-sampai ada beberapa yang japri saya bertanya bagus tidak pelatihan ini atau itu. Susah jawabnya, jawab bagus atau tak bagus memangnya siapa saya menilai orang? Saya jawab: maaf pak/bu, baiknya ikut saja kalau mau tahu bagus atau tidaknya, sebab saya bukan siapa siapa yang berhak menilai.

Ada juga yang pernah bertanya pada saya apakah pelatihan pelatihan geoteknik saya diakui? Atau mempunyai recognition istilah kerennya.

Nah kalau semua webinar/seminar/workshop/pelatihan yang sekarang sangat marak dan bertebaran di cakrawala daring, memerlukan “recognition” dari lembaga tertentu, maka akan menjadi masalah baru. Siapa yg memberi pengakuan? Siapa yang menguji si nara sumber? Lalu apakah tidak berarti peserta juga harus diuji? Bisa bisa ujung ujungnya UUD lagi, UUD lagi, dan admin lagi, admin lagi. (UUD = ujung ujungnya duit). Belum lagi nanti jika penyelenggara webinar/seminar/pelatihan (yang sekarang marak secara daring) harus mendapat pengakuan semua. Bisa banyak yang mati suri itu penyelenggara pelatihan.

Bagi saya yang menyelenggarakan pelatihan terbuka untuk enjinir/praktisi/akademisi/mahasiswa sejak 2007 (sempat terpaksa berhenti sementara di 2020 karena Covid 19 yang hingga kini masih belum teratasi), yang terpenting saya mengajarkan full tanpa ada yg dirahasiakan dan bahan dipersiapkan betul betul dengan sesistematis mungkin bukan hanya copy paste. Serta mengarahkan dan menjelaskan bagaimana suatu teori diaplikasikan dalam praktek dan bagaimana pelaksanaan suatu sistem konstruksi geoteknik dilakukan dengan benar. Info saja bahkan banyak juga yang konsultasi gratis di pelatihan saya.

Ada juga yang bertanya sebelum mendaftar: Apakah dapat sertifikat. Dan apakah sertifikat saya diakui. Saya jawab: “Sertifikat saya berikan, saya yang tanda tangan, namun itu hanya sertifikat kehadiran dan tidak menyatakan kompetensi peserta. Diakui atau tidak saya tidak tahu. Dan kalau datang di pelatihan saya, saya tidak berharap peserta untuk mengejar dan menjadi pengumpul sertifikat. Tetapi menjadi enjinir yang haus akan ilmu dan mau meningkatkan pengetahuannya. Dan yang jelas semakin pandai anda semakin naik pula penghasilan anda.” Itu jawaban saya kepada peserta yang minta/bertanya soal sertifikat.

Soal penilaian kualitas pelatihan, itu terserah penilaian para peserta apakah bermanfaat atu tidak hadir di pelatihan saya. Info saja sejak 2007 ada cukup banyak peserta yang ikut 3-7 kali  modul pelatihan saya. Beberapa bahkan ada yang sampai 12-13 modul diikuti semua. Peserta dari mahasiswa hingga doktor dan satu dua professor.

Nah, bagi saya, itu pada akhirmya terserah mereka yang menilai bermanfaat atau tidaknya hadir dalam pelatihan geoteknik saya.

Kalau pakai pengakuan resmi berarti harus ada ujian. Ujian terhadap si pengajar dan ujian terhadap peserta. Ujian harus ketat dan tegas atas hasilnya tanpa kompromi. Dan tanpa sistem katrol seperti yang sering terpaksa dilakukan dosen dosen saat menilai ujan mahasiswa. Itu idealnya. Ini kan berarti biaya lagi. Dan bisa saja akhirnya akan muncul “lembaga penilai” yang hanya jadi tukang stempel.

Apakah kita sudah siap? Nah, akhirnya akan bagaimana??? Wong soal sertifikasi keahlian saja belum rapi. Ada banyak versi.

Jadi menurut saya yang terpenting adalah apa yang bisa saudara dapat dari satu pelatihan.

Demikian pendapat saya. 🙏🙏

GTL, 2100308

28
Feb

ZERO RUNOFF, Mungkinkah?

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Geotechnic, Note and Discussion

Pagi ini kembali saya menerima video dimana dikatakan untuk mengatasi banjir bisa pakai jurus Zero Runoff, bahasa awamnya jangan biarkan air mengalir di permukaan (surface runoff), tapi hantarkan dan masukkan kembali ke bumi dengan membangun sumur-sumur resapan.

Ingat ZERO = NOL, ZERO RUNOFF = Tidak ada air yang mengalir di permukaan menuju laut!! Zero runoff tidak sama dengan minimum runoff. Dalam kata minimum runoff boleh ada air yang mengalir dipermukaan menuju laut.

Menjelang akhir tahun 2020 saya melihat jurus tsb dilaksanakan di kompleks perumahan kami. Dibangun 5 sumur resapan berukuran lebih kurang 7.0mx2.5mx2.0m dalam jarak total 100m. Sumur dibuat dengan menggunakan Box box Geodrain dibungkus dengan Geotextile. Cukup rapi. Dari galian terlihat muka air tanah berada sekitar 1.5m dari permukaan jalan. Pembangunan resapan sudah selesai lebih dari sebulan lalu.

7 Feb 2021, setelah dini hari hujan cukup besar. Terjadi “banjir” atau istilah sebagian orang lagi “genangan” di sekitar daerah sumur resapan dengan ketinggian sekitar 20cm. Di sebagian tempat hingga 40cm hingga sang air sempat berkunjung ke kantor kami. Hal ini membuat saya tergelitik untuk mewawancara sang air yang sedang parkir dan bercanda ria menikmati pagi hari yang sejuk dan melihat lihat pemandangan sepanjang jalan koomplejs serta berbaring rebahan di beberapa rumah dan juga ruko saya.

Berikut wawancara saya dengan sang air yang punya nama lain Banyu:

Tanya: Pak Banyu kok anda santai-santai di jalan dan ruko saya sih? Kan sudah dibuatkan jalan agar kembali ke bumi?

Banyu: Lah, saya bukan santai, saya mah gak pernah santai dan gak pernah bandel. Saya sih nurut saja kalau disuruh masuk ke tanah. Tapi anda tahu gak, tanah permukaan di Jakarta itu banyak tanah lempung dan lanau yang ruang ruang dalam (pori pori tanah, bahasa geotekniknya: porositas, n) nya kecil kecil sekali, sempit sempit penuh hambatan (bahasa geotekniknya: permeabilitas rendah, k, antara 1x10pangkat-6 hingga pangkat -12 m/detik) di tambah lagi disana sudah penuh dengan rekan saya (tanah di bawah muka air tanah sudah jenuh oleh air, Sr=100%, artinya sudah tak ada ruang lagi untuk air lagi. Bahasa geotekniknya derajat kejenuhan sudah 100%). Jadi bagaimana saya bisa masuk kalau  mereka tidak jalan di tanah yang relatif datar ini (no ground water flow or limited groundwater flow) ? Kalaupun masuk kan paling masuk di tempat yang masih ada ruang (yang jenuh sebagian atau yang masih kering, dan tanah yang jenuh sebagian itu juga tidak mudah untuk melewatkan air) dan itupun perlu waktu pak.

Di samping itu, ini Jakarta sudah kebanyakan aspal dan beton pak, bahkan depan rumah teman teman bapak saja banyak yang halaman depan dan “trotoir” nya yang biasanya diisi teman teman saya bernama TANAMAN dan POHON, di rampas dan dibeton. Lah ruang saya untuk masuk (luas area resapan) kan semakin sedikit pak. Saya mah gak salah kan pak? Hak hak saya dirampas atas nama pembangunan. Lahan lahan yang tadinya tempat saya parkir bersantai dirampas dan dibangun perumahan, jalan dll. Bingung saya jadinya. Mau masuk ke tanah banyak hambatan.

Lagipula bapak ngerti gak sih?  Sekalipun ini Jakarta kosong gak ada bangunan, emangnya kalau saya dan teman-teman saya diusir secara besar-besaran dari awan gelap di atas sana, saya tetap gak bisa masuk 100%? Karena masalah sempit ruang di dalam tanah tadi dan juga karena adanya kemiringan tanah? Dan tetap saja sebagian dari saya akan mengalir ke sungai dari tempat tinggi ke tempat rendah.. Buktinya kan ada sungai pak. Dari jutaan tahun lalu sebelum kaum bapak “membangun” kan sungai sudah ada. Lah tempat jalur jalan saya bernama sungai juga bapak ganggu. Resmi atau gak “dibangun” jalir saya dipersempit. Ditambah lagi dijadikan lahan sampah sampah kaum bapak. Ya hak saya di rampas.  Ya meluap lah saya kemana mana.

Jadi bapak mikir dong, jangan wawancara saya….yang jelas gak bisa pak kalau zwro runoff. Kalau minimal runoff ya bisalah pak. Tapi itu bapak, kaum manusia, yang harus kerja. Bukan saya pak. Saya mah yang namanya Banyu kek, Air kek, Water kek, selalu menurut pak. Lah bapak taruh di gelas saya berbentuk gelas, baapk taruh di mangkok ya saya berbentuk mangkok..

dst….

Jadi mikirlah pak, bu. Kan tanpa saya bapak ibujuga gak bisa hidup!!

Waduuuuhhhh…. Diam deh saja seribu bahasa. Kalau ada ekor mungkin ekor saya sudah terlipat.

GTL, 210210

28
Feb

Soil Test dan Cost Saving

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Geotechnic, Note and Discussion

Soil test jangan banyak banyak-banyak! MAHAL!??

Mahal?? Salah bo!!

Dengan soil test yg baik dan memadai dan dengan keterlibatan ahli geoteknik yg handal dan beretika baik, maka bisa terllihat potential problem yg bakal muncul.  Dan juga bisa didesain sistem struktur geoteknik yg baik.

Istilah dan motto saya: untuk ini: “We provide Technically Sound and Economically Justified Geotechnical Solution”.

Kalau pelit dalam soil test dan pelit dalam melibatkan geotechnical engineer yang handal, maka problem besar bisa muncul!!

Kasus nyata sudah sering terjadi. Bbrp contoh:

Kasus Gedung Sano tahun 31 Des 1990. Terpaksa gedung dirobohkan karena kesalahan geotechnical assesment dan geotechnical execution.

Kasus lain ada gedung hotel 9 lantai yang di desain hanya menggunakan data sondir dan menghitung berdasarkan JHP dan perlawanan konus dengan rumus:

Qijin=qc. A/3+JHP.keliling/5. Sang engineer yakin banget, jadilah dia design and built. Kapasitas 1 tiang di ambil 110 ton sbg working load %, alias qijin=110 ton!! Ternyata setelah di test hanya bisa mikul 30-40 ton!! Dan problemnya baru ketahuan setelah seluruh pondasi dikerjakan. Akibatnya?? Biaya bengkak!!!

Ada lagi yg hanya dengan 2 borehole yg berhenti setelah 3 kali SPT > 50. Lalu di desain lah oleh si konsultan tiang bor berdiri persis di atas tanah dengan SPT > 50. Bored pile dilaksanakan dan diawasi. Ternyata piling record nya?? Amburadul, jauh dari memadai. Lalu tiang di test PIT, laporan 8 tiang oleh dua PT yg uji bertolak belakang. Satu PT test hampir seluruh tiang. Dinyatakan lebih dari 60% tiang tidak memenuhi syarat!! Nah loh??? Alhasil kontraktor dituntut puluhan M. Ujungnya?? Pengadilan!! Dua dua owner dan kontraktor rugi.

Nah, silakan hemat soil test dan hemat geotechnical engineer!!

By the way, mau bilang owner pelit? Tidak heran kalau owner pelit. Mengapa?? Karena mereka umumnya adalah orang2 yang besar dari dunia dagang dan bisnis, dengan prinsip ekonomi. Yang dengan teori Malthus-nya diajarkan prinsip HOMO HOMINI LUPUS, manusia adalah serigala sesamanya. Dan prinsip: pendapatan sebesar-besarnya pengeluaran sekecil-kecilnya. Lalu salah siapa? Tuding siapa? Tuding SNI? Ups…

Saya sering mengatakan demikian: coba anda tuding saya dengan jari anda, saat anda tuding perhatikan berapa jari anda yang mengarah ke saya, dan berapa jari anda yang balik mengarah pada diri sendiri?? Nah paling tidak ada 3 jari yang balik ke diri sendiri, benar gak?

Apa artinya??

Artinya, kita selaku enjinir juga bersalah! Loh dimana salahnya? Salahnya kita tidak bisa meyakinkan pemilik modal dengan bahasa mereka!! Kalau kita ceritakan SPT PMT DMT CPT TRIAXIAL dll tuh untuk ini dan itu begini kerjanya, lah… Gak bakal masuk, kan mereka bukan otnag teknis!! Maka tak heran mereka gak mau banyak banyak!!

Lalu bagaiman?? Belajarlah ilmu: BAGAIMANA MENJUAL DIRI ANDA!! HOW TO SELL YOURSELF.

Loh, sok tahu nih si GTL, buktinya loe kan gak kaya!! Ya jelas kalau dibanding sama yg mau bangun gedung kalah jaih secara duit !! Tapi… (ah gak usah cerita tetapi deh yah) 😀😀

GTL, 210203

Geotechnical Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer