07
Apr

Jari Telunjuk.. Ada apa?

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Education, General, Motivational

Soal jari telunjuk ini saya pernah mengalami sesuatu yang kena banget.

Saat itu kira2  tahun 2010, dalam salah satu pelatihan geoteknik saya, saya cerita bahwa saya pernah ditunjuk jidat2 saya oleh Prof. Balasubramaniam. Profesor saya sewaktu ambil master tahun 1987, kira kira sekitar awal Oktober 1987, setelah ujian tengah kuartal pertama (saat itu sistem kuartal bukan sistem semesteran).

Ketika itu saya dipanggil ke kantor beliau dan ditunjuk2 jidat saya dimarahi begini: “kamu bodoh, kamu selalu ngantuk di kelas, bahasa Inggrismu amburadul!”.

Saya menjawab: “ya saya bodoh makanya saya kesini sekolah lagi, saya ngantuk gara2 mengerjakan tugas2 prof dan 3 dosen lain yang seabrek-abrek. Untuk jawab satu pertanyaan prof dan 3 dosen lain, saya harus mencari dan membaca beberapa buku di perpustakaan baru bisa menjawab. Baru bisa tidur jam 3 pagi dan kelas Prof atau kelas lain sudah mulai lagi jam 7 pagi!!”

Langsung dipotong beliau: “Saya tidak perduli, itu urusanmu! Yang saya tahu alam memberi semua orang 24 jam, baik itu putih, hitam, kuning, kaya, miskin, bodoh atau pintar, tinggal bagaimana kamu memanfaatkan 24 jam waktumu!! Kalau kamu tidak suka sekolah siap memberimu tiket untuk pulang ke negaramu! Jangan lupa kamu disini dibayar untuk belajar! (catatan: saya dapat bea siswa penuh) Di luar sana banyak orang yang siap menggantikan kursimu!!”

Pahit, kesal, capek, sedih bercampur aduk! Sebuah perjuangan berat selama 20 bulan yang disertai kehilangan berat badan 5-6kg dan dengan cucuran air mata. Makan kubatasi. Kalau uang sekarang kira kira hanya Rp. 15.000/hari demi menghemat untuk support anak dan istri dengan bea siswa yang kalau uang sekarang hanya kira kira sebesar Rp. 1.580.000/bulan. Namun TEGURAN prof Bala membuat saya lebih sadar akan arti sebuah manajemen waktu dan arti sebuah perjuangan dalam menguasai ilmu. Ternyata kemudian dari teman-teman kita tahu bahwa kami 23 orang seangkatan dari perbagai negara, semua kena teguran beliau di tengah semester pertama. Itulah cara beliau mendidik, keras, namun penuh arti.

Saat saya lulus, beliau memanggil saya kembali dan berucap: “Selamat Gouw, kamu adalah salah satu dari murid terbaik saya selama ini, saya anjurkan kamu utk terus sekolah, bakat analisa mu sangat bagus. Setiap saat kamu memerlukan rekomendasi saya, saya siap menulis untuk kamu.”

Terima kasih prof, sebuah pelajaran dan teguran yang di awal terasa pahit dan mengesalkan namun berakhir sangat berharga.

Sampai sini saya mengakhiri cerita saya.

Lalu apa hubungannya dengan jari telunjuk?? Di akhir cerita saya itu, salah satu peserta tiba-tiba nyeletuk: “Bagus Pak ceritanya. Tapi jari bapak jangan menunjuk ke arah saya dong!!”.

Rupanya, tanpa sadar saking seru bercerita, saat mengatakan jidat saya ditunjuk-tunjuk Prof. Bala, jari telunjuk saya menunjuk ke peserta itu!!

Sejak saat itu, bila bercerita dengan menunjuk, maka saya selalu mengarahkan telunjuk saya ke jidat saya sendiri!!!

GTL, 210328

28
Feb

Saran kepada Mahasiswa Pasca Sarjana

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Education, General

Kalau boleh, berikut saya memberi beberapa saran kepada mahasiswa pasca sarjana. Jangan ambil mata kulaih terlalu banyak. Atur pace anda. Kalau benar2 mau belajar dan menguasai ilmu geoteknik.

1. Cukup max 4 mata kuliah setiap semester.

2. Ikuti semua kuliah dengan konsentrasi penuh. Begitu kuliah mulai, HP off.

3. Berpikir dan bertanya. Jangan malu bertanya. Tidak ada pertanyaan bodoh selagi kta masuh berstatus mahasiswa. Apalagi dosen dosen anda merupakan orang2 berkualitas di bidangnya.

4. Setelah kuliah ulang dan berusaha buat ringkasan. Buat ringkasan dalam power point agar bisa digunakan kelak.

5. Baca text book terkait untuk memperdalam. Jangan hanya mengandalkan apa yang diberikan di kuliah. Pakai kuliah sebagai guidance untuk menggali lebih dalam.

6. Baca makalah. Berusaha utk mengerti.

7. Dari semua yang anda pelajari, pikirkan kira kira bagaimana anda menerapkan ilmu ilmu itu ke dalam praktek atau ke dalam riset lebih lanjut.

8. Bila ada yang belum dimengerti baca lagi text book yang terkait.

9. Jangan bersikap menunggu, tetapi harus bersikap mencari dan menggali. Intinya: harus lapar ilmu.

10. Jangan egois, berbagilah dengan teman, karena dengan menjelaskan ke teman, anda juga belajar.

11. Belajar = investasi. Belajarpun perlu pengorbanan. Perlu keluar uang. Jangan pelit dalam membeli buku. Membayar pelatihan/seminar/webinar. Ikuti dengan cermat sekalipun dari yang berkemampuan lebih rendah. Karena dari mereka kita juga bisa belajar. Sekalipun belajar dari kesalahan mereka. Sambil kalau bisa memberi petunjuk bagaimana seharusnya.

12. Jangan pernah merasa sudah pandai. Apalafi sampai over-convidence. Ini akan membutakan mata dan menghambat langkah maju diri sendiri.

Belajar adalah Privileged. Sebuah keistimewaan yang tidak bisa didapatkan semua orang. Bahkan saya juga perlu memperjuangkan waktu dalam kesibukan keseharian dan berjuang melawan kecenderungan bermalas-malasan!!

Bagi saya mengajar di pasca sarjana dengan berusaha sebaik mungkin juga sama dengan belajar.

Kelak setelah lulus, tetaplah luangkan waktu untuk belajar. Hidup sampai tua, belajar sampai tua.

Salam Geoteknik

GTL, 210224

28
Feb

GELAR

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Education, General, Geotechnic, News and Opinion

Apalah artinya sebuah gelar apabila di keplamu kosong. Dan apalagi artinya sebuah gelar kalau merasa kepala banyak isi tapi prakteknya ngawur, SALAH SANA SALAH SINI?? Salah satu contoh masa hasil Analisa menghasilkan FK Gempa lebih besar dari FK Statik (FK= Faktor keamanan), ini dikerjakan seorang pengajar bergelar S3 loh.

Di Indonesia kita pasang semua gelar dari S1 sampai S3 plus keanggotaan.

Contoh, kalau dipasang semua nih nantinya

Prof. Dr. Ir. MabokGelar ST. M.Eng, ChFC, HATTI, HAKI, PII, STRI, SKA, IPTB DKI, IPTB JABAR, SEAGS, ISSMGE.

Nah loh… Bukankah kalua sudah S3 berarti sudah ada gelar S1 S2. Jadi gelar S1 dan S2 gak perlu dipasang lagi. Kalau sudah Profesor artinya pasti sudah adah S1 s.d S3 jadi gelar S1 sampai S3 gak perlu dipasang lagi.

Padahal di luar negeri kalau masih satu jurusan maka sesudah S3 gelar S1 S2 tidak lagi dipasang, sesudah prof gelar S3 juga gak dipasang lagi. Juga keanggotaan dan profesional engineer nya tidak dipasang lagi. Kalaupun dipasang maka keanggotaan asosiasi profesi itu tidak dipasang di belakang nama. Tetapi di bawah nama, jadi ditulis nya begini:

Prof. LAPARILMU, ChFC

Professional Engineer

M.SEAGS, M.ISSMGE, M.HATTI, M.HAKI


Kalaupun professional engineer nya dipasang di belakang nama maka jadi:

Dr. LaparIlmu P. Eng.

atau

Prof. LaparIlmu P. Eng

Nah…. Loh…. kita mau adu panjang gelar kah? Atau adu dalam ilmu??

Maaf ya, apakah sekolah keinsinyurannya mengajarkan ilmu-ilmu teknik canggih? Atau hanya etik dan administratif plus belajar menulis pengalaman engineering?

GTL, 210130

Geotechnical & Motiviational Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer