28
Feb

UU Keinsinyuran (2)

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Engineers, Problems of Engineers

Pada prinsipnya, saya melihat,  undang undang itu tujuannya baik agar ada aturan dalam PROFESSIONAL ENGINEER. Namun ada bebrapa catatan saya yaitu:

1. Tidak terpikirkan bagaimana dengan yang sudah bekerja belasan bahkan puluhan tahun sebagai insinyur, dan memasang gelar insinyur sejak lulus. Walaupun di ijazah ternyata tertulis “Sarjana Teknik”. Dan menjadi praktek yang sudah berlaku sejak tahun 70-90an. 

Di luar negeri cuma ada perbedaan sebutan yaitu: ENGINEER bagi yang memang bekerja sebagai insinyur dan PROFESSIONAL ENGINEER bagi insinyur yang tersertifikasi, dan tidak ada kewajiban engineer dalam bekerja menjadi professional engineer, yang ada cuma: semua proyek harus ada tanda tangan PROFESSIOAL Engineer baru boleh dilaksanakan. Catatan lain dalam hukum ada istilah COMMON LAW, yaitu sesuatu yang tidak tertulis namun yang dalam praktek sudah dianggap sebagai kebenaran di masyarakat. Dan itu diakui dalam praktek di negara-negara maju sekalipun.

2. Sebagai catatan dan saya kira bisa jadi masukan juga untuk PII. Kami di Himpunan Ahli Teknik Tanah (HATTI), sejak tahun 1993, sudah mulai membahas soal sertifikasi keahlian, kami sangat aware bahwa ini adalah isu sensitif dan berat. Setelah melalui proses pembicaraan yang sangat panjang, di awal tahun 2000an terealisasilah SKA HATTI yang kami sebut sebagai G1 dan G2, sekarang G1=Ahli feoteknik madya, dan G2=ahli geoteknik senior. Lalu bagaimana dan siapa yang berhak G2 di angkatan pertama?? Ini juga melalui pembicaraan yang sangat panjang dengan melibatkan lagi banyak orang, akhirnya dicapai kesepakatan, yaitu membuat kriteria dan mendata siapa-siapa saja yang bisa langsung diberikan G2 tanpa ujian. Setelah nama-nama yang pantas untuk diberikan didapatkan, maka syaratnya ditetapkan yaitu: yang terpilih tersebut wajib membuat makalah dan mempresentasikannya. Bagi yang tidak bisa ikut membuat makalah dan presentasi maka harus ikut ujian. Bagi yagn bisa ikut langsung diberikan G2. Dan itu kami sebut sebagai proses GRAND FATHERING. Kebetulan di hari yang ditetapkan saya tidak bisa ikut, maka sayapun diuji. Saya adalah orang pertama yang mendapat G2 HATTI lewat pengujian oleh team 5 orang.

3. Hendaknya aturan tidak bersifat tumpeng tindih. Sekarang ini ada SKA yang diterbitkan oleh LPJK dengan rekomendasi organisasi profesi, ada juga IPTB (dulu SIBP) yang dikeluarkan propinsi DKI Jakarta. Seorang yang sudah punya SKA dari LPJK tidak bisa memasukkan desain tanpa ada IPTB DKI. Kini kabarnya juga adalagi IPTB Bandung (?). Lalu sekarang ada lagi STRI dari PII. Semua itu walau katanya MUDAH, namun tetap saja membuang banyak waktu untuk mengisi segala Persyaratan administratif, juga membutuhkan biaya. Mengapa tidak ada koordinasi yang baik?

4. Mengapa tidak satu saja sertifikat keahlian? Kalau mau STRI ya yang sudah memiliki SKA otomatis diberikan STRI yang setingkat?? Baru setelah itu semua hanya punya satu sertifikat keahlian sesuai undang-undang keinsinyuran yaitu STRI dan otomatis bisa praktek di seluruh Indonesia tanpa harus punya lagi IPTB tingkat propinsi?

Catatan tambahan: banyak yang berpendapat bahwa kok seolah-olah sertifikasi ini dijadikan lahan cari uang?? Agar hal ini mendapat perhatian dari yang berwenang.  Ini saya kutip ucapan seorang anak muda yang baru lulus, anak yang sangat rajin dan pantas saya acungkan jempol karena semangat belajarnya yang tinggi dan kesediaannya membeli dan membaca textbook.
“wah ribet yah pak, pdhl saya ini baru mikir2 pak sudah ribet apalagi yh sudah seperti bapak sudah praktek puluhan tahun masak dipertanyakan lagi keahliannya. Sdh ikut workshop dll tapi blm keluar juga sertifikatnya pak, nah itu dia pak making money pdhl sudah mengorbankan hal lain demi yah kesejahteraan kita pak hehehe”

GTL, 210130

28
Feb

UU Keinsinyuran (1)

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Engineers, Problems of Engineers

Bagi yang sudah lulus teknik sipil dengan kurikulum lama yang harus 5 tahun dan sudah pasang gelar Insinyur sejak lulus di tahun 60an hingga akhir 80an, apakah juga harus sekolah lagi?

Dan jika UU itu segera diberlakukan seketika, maka Indonesia akan benar benar akan jadi sangat sangat kekurangan orang yang bisa praktek di dunia konstruksi. Dan pembangunan bisa bisa langsung berhenti. Begitu kan kalau undang-undang tersebut langsung diterapkan. Bukankah begitu?

Apakah undang-undang tersebut dalam peralihannya hanya semata-mata melihat gelar di ijazah? Padahal banyak sekali tenaga ahli konstruksi yang sudah mumpuni. Dan yang menguji di bidang yang ditekuni oleh ahli/pakar tersebut bahkan bisa jadi tidak se-ahli sang pakar dan bahkan bisa jadi belajar dari si pakar.

Nah apakah ini tidak dipikirkan ??

Mengapa STRI tidak langsung diberikan kepada senior-senior tsb???

GTL, 210130

28
Feb

Ir. SIPIL (Ups hapus Ir nya ganti dengan ST, loe kan belum lulus PPI)

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Engineers, Problems of Engineers

Kerja 15 jam tanpa uang lembur.

Kalau sebagai subkon, secara gak langsung modalin owner dan maincon.

Tiba saatnya nagih, terpaksa ngemis.

Untung kalau tak dikemplang.

Desain dah capek capek, terus dikemplang dengan alasan desain gak dipakai, proyek gak jadi dibangun.

Ngawasin pekerjaan pondasi, menyatakan pondasi tak bisa diterima dan harus ditolak. Dimusuhi kontraktor dan tidak dipuji owner. Malah uang ngawas ikut dipotong!

Ada junior cewek yg datang komplain kok bayaran lebih rendah dari gaji sekretaris.

Gak apa apa. Engineer memamg bekerja untuk pembangunan. Gaji kecil gak apa. Hasil gak sekaya pedagang gak apa. Yg penting sudah punya apartemen punya rumah punya istri punya anak dan bisa sekolahkan anak keluar negeri. Kepala tetap tegak, Walau fee desain gak kebeli unit terkecil di apartemen yg di desain bahkan kadamg WC nya saja gak kebeli. Berjalan dengan tetap tegap!! Mulut tetap berucap: puas dan bangga. Naik mobil keliling Jakarta sama anak, sambil tunjuk sana sini, itu papa yg desain pondasinya, itu papa yg kerjakan dewateringnya, itu papa yang awasi basementnya, itu…., itu…., puluhan itu. Terus si anak yag belum 17 tahun tanya: punya kita yang mana pa???

Tetap jawab dengan bangga: “walau bukan punya papa, semua itu tak akan ada tanpa papa! Dan papa gak mau juga punya gedung, pusing urusnya. Makanya papa gak punya.” Sambil menepuk dada bangga!!!

ha…ha…ha…

Serius harus tetap bangga pada profesi sendiri!!!

GTL, 210120

Geotechnical & Motiviational Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer