17
Apr

IPK tidak pentingkah?

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Education, General

Kata itu entah explisit atau implisit mencuat dan jadi topik hangat dikalangan pendidik dan yang dididik. Konon katanya IPK, NEM dan ranking itu tidak penting karena tidak menjamin kesuksesan.

Kata kata yang perlu dikaji secara hati hati, karena bisa timbul salah interpretasi yang bisa menjadi sangat negatif dan counter produktif!

Bagi siswa yang malas, kata kata itu akan dicaplok begitu saja, dan dipakai sebagai alasan untuk tidak belajar secara serius, atau belajar sekedarnya saja. Dengan akibat tentunya menjadi percuma dia sekolah.

Bagi pelajar yang tinggi IPKnya bisa juga terpengaruh, dan lalu menjadi kendor karena toh menteri saja bilang orang sukses gak perlu IPK tinggi.

Bagi pendidik yang perlu memberi nilai IPK karena toh masih menjadi tugas memeriksa dan menilai kerja/ujian mahasiswa, ucapan itu bisa juga mengendorkan motivasi menilai anak didik secara benar. Toh tidak penting katanya. Jadi ya sudah kasih saja kira kira IPK berapa. Pakai rumus kira kira saja.

Sekarang begini, kalau yah memang betul tidak penting, mengapa di seluruh dunia masih pakai memberi nilai A, B, C, D dan E? Apa iya semua itu KOSONG belaka??

Menurut saya ada yang sangat kurang dalam pernyataaan bahwa “IPK tidak menjamin Kesuksesan”. Perlu terlebih dahulu didefinisikan apa arti kata SUKSES yang dimaksud. Saya menangkap SUKSES yang ditunjuk dalam pernyataan itu mengarah kepada sukses secara FINANSIAL atau EKONOMI, yaitu menjadi produsen besar, korporasi besar dan lain lain yang sejenis. Kalau itu yang dimaksud, ada benarnya, sebab saya melihat dan mengalami sendiri dalam kehidupan nyata. Beberapa teman saya banyak yang sekolahnya biasa biasa atau bahkan rendah prestasi di sekolah dan hanya sampai tingkat SMP atau SMA. 30-40 tahun kemudian secara finansial lebih berduit daripada saya yang menghabiskan waktu di dunia akademis sampai ke jenjang S3. Mantan bos saya pada tahun 85 pernah berucap dihadapan kami enjinir-enjinir dalam dan luar negeri yang dipekerjakan beliau: “Kalian ini tidak beda dengan kuli. Bedanya adalah kalian jual otak, kuli jual tenaga, dan kalian lebih susah diperintah daripada kuli!!”

Now, apakah semua kata SUKSES harus dinilai dari uang?? Kalau enjinir, dokter, ahli hukum, IT programmer, ahli statistik, ahli fisika, ahli bioteknologi, semuanya sekolah hanya asal asalan? Ber IPK asal lulus?? Tanpa ahli-ahli itu apakah UANG berarti??? Apakah akan ada kereta cepat, pesawat terbang, komputer, smartphone dll.  Mereka-mereka itu juga SUKSES dalam memakai otaknya untuk membuat sesuatu menjadi bermanfaat buat manusia!!! Tapi memang mereka tidak seSUKSES bos bos yang menghasilkan uang menggunung!!! Seringkali mereka hanyalah KULI KULI PINTAR dari sang bos besar yang saya istilahkan sebagai BOS DUIT!!! Tapi, maaf bos, tanpa kuli kuli pintar dan kutu kutu buku yang di saat sekolah menjelajahi segenap penjuru buku hingga sang buku menjadi kucel, apakah bos bisa punya gedung yang nyaman? Rolex, Jaguar, Mercy, Jet Pribadi, dll.??? Bisa punya bos tanpa kuli-kuli pintar dan kami guru guru “lugu” di sekolah negeri dan dosen dosen “begok” yang mau digaji rendah di kampus kampus Indonesia???

Betul IPK tinggi tidak menjamin kepintaran seseorang. Karena bisa saja si pelajar atau mahasiswa mengejar IPK tinggi dengan cara mempelajari soal soal ujian yang sudah lewat, lalu menghafal jawabannya dan lulus dengan nilai cemerlang. Tetapi sesungguhnya otaknya tidak paham betul akan ilmu yang dipelajarinya.

Maka dari itu saya mengajar mahasiswa saya dengan mengatakan: “Pahami semua kata yang anda baca dan pakai. Salah satu contoh: mengapa 1+1=2 dan mengapa pula bisa juga 1+1=10. Dengan melihat, mencari, membaca, mencermati, dan memahami, maka otomatis ujian anda akan bagus dan IPK otomatis akan tinggi”. Jadi bukan mengejar IPK (disini saya setuju bahwa tidak perlu mengejar IPK) melainkan mengejar pemahaman dan pengertian. Dan jangan dibalik!!

Apalagi kalau sudah sekolah di tingkat S2 yang gelarnya Magister alias Master. Apa arti master? Ya, menguasai artinya ya menguasai ilmu yang anda pelajari agar bisa diterapkan dalam dunia nyata. Bagaimana jalau level S3? Bidang ilmu apapun, kan umumnya bergelar PhD alias Doctor of Philosophy!  Loh kok philosophy (=filsafat=falsafah) padahal kan belajarnya bisa hukum, ekonomi, teknik, kedokteran, IT dan bukan filsafat!!!  Karena itu berarti anda harus mengerti filosofi di setiap pernyataan bidang ilmu anda. Dari mana pernyataan itu keluar, untuk apa, mengapa, dan bagaimana menerapkannya agar berguna. Jadi bukan dari singkatan Permanent Head Damage alias kepala botak permanen tetapi otak kosong!!!

Bagaimana dengan tingkat sekolah dan S1?? Ya sama, yang harus ditanamkan kepada anak didik adalah bukan menghafal tetapi sikap INQUISITIVE = mencari dan menggali hingga memahami dan mengerti.

Satu lagi, betul bahwa belum tentu atau bahkan bisa dikatakan tidak semua ilmu yang kita pelajari dari tingkat sekolah hingga ke tingkat doktoral itu pasti berguna dalam kehidupan kita pribadi ataupun dalam kehidupan bermasyarakat kita. Tetapi satu hal, apa sih tugas pelajar dan mahasiswa?? Belajar bukan? Ya belajarlah di bidang ilmu yang anda pilih jurusannya sebaik mungkin, tetlepas nantinya anda pakai untuk cari uang atau tidak! Contoh kalau anda sekolah teknik Sipil ya belajar yang benar sampai ngerti. Kalau sudah lulus ternyata anda pilih jual bakmi dan bakmi anda bisa mendunia dengan franchise di seluruh peloksok dunia dengan nama dagang BAKMI IPK=A misalnya. Ya silakan silakan saja. Tapi toh tugas pelajar dan mahasiswa kan belajar, dan barometer SUKSES nya anda sebagai pelajar dan mahasiswa adalah IPK, IPK dari pengertian yah, bukan dari hafalan atau membeli!!! SEKOLAH BUKAN TEMPAT BELAJAR MENCARI UANG ATAU TEMPAT MENCARI UANG, melainkan TEMPAT UNTUK BERLATIH DALAM PROAKTIF MENCARI, MENGEJAR PENGERTIAN, PEMAHAMAN, BELAJAR MEMECAHKAN PERMASALAHAN dan BELAJAR MELIHAT KE DEPAN, agar bisa menjadi manusia yang berguna yang mempunyai visi dan misi demi kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia dan alam sekitarnya, dan bukan merusak alam demi Keuntungan ekonomi!!

Kalau boleh saran kepada Mendikbud, tolong dong pikirkan bagaimana supaya honor guru dan dosen itu layak dan tolong dong sediakan fasilitas belajar mengajar dan fasilitas riset di kampus-kampus agar dunia pendidikan kita maju! Dan agar dosen dosen bermutu bisa tetap di kampus melayani mahasiswa dan mendidik serta riset bermutu dan tidak lari sana sini mencari tambahan duit di luar kampus karena gaji kampus tidak memadai dengan akibat mahasiswa mau cari dosennya sulit!! Agar juga para dosen terlibat dengan dunia nyata dan dunia industri melalui kampus-kampus secara resmi dan bermanfaat bagi siswa didik, dan bukan “hunting” proyek sendiri-sendiri di luar kampus.

Maaf, mengingatkan saja: US, Jepang, China, dan negara maju lainnya sebelum maju mereka mulai dengan memajukan dunia pendidikan.

Begitulah tulisan di siang yang panas ini. Semoga bisa memberi sedikit masukan.

GTL, 210417

Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD

Dr. Gouw is a certified Professional Geotechnical Engineer. He has been working in the field of Geotechnical Engineering since 1984. His expertise covering geotechnical investigation, soil instrumentation, deep foundation and excavation for high rise buildings, pile load testing (Static and PDA), pile integrity testing (PIT), sonic logging test, vibration monitoring, slope stability, ground anchors, pumping test, dewatering, micropiles, tunnelling and ground improvement works, e.g. dynamic compaction, vertical drain, vibro-compaction, geosynthetic and grouting. The jobs cover more than 180 projects in Indonesia, Singapore and Srilanka. He has a great passion in the teaching and disseminating of geotechnical engineering knowledge. He serves as lecturer since late 1984. Currently, he serves as Associate Professor at Podomoro University, Jakarta for undergraduate study, and for post graduate students at Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Indonesia. He also conduct regular geotechnical training for engineers. He also chaired the Indonesian Chapter of International Geosynthetics Society since 2006. He has published 80 papers and 22 technical notes.

Geotechnical & Motiviational Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer