Specialist in Design, Supervision/Execution of:

Dewatering,Pumping Test,PDA-PIT-Sonic Logging-Vibration Monitoring,
Pile/Plate Load Test,Soil Instrumentation,Soil Nailing,MicroPile,Grouting
Deep Foundation,Deep Excavation,Slope Stability,Ground Improvements
Geosynthetics & Other Geotechnical Works
Agent of Geotechnical Softwares:
PLAXIS, GEO5, Deltares, DC Software, RocScience, GeoSmart, NovoTech, etc.

Dr. GOUW Tjie-Liong Ir., M.Eng., ChFC.

  • Senior Geotechnical Consultant
  • Chartered Financial Consultant, ChFC
  • Senior Geotechnical Engineering Lecturer/Trainer
  • Provider of Geotechnical Short Course / Training
GTL Brief Profile
17
Mar

Notes on The Application of Spring Constant and Soil Structure Interaction Problem

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in GTL Paper

ABSTRACT: Despite the advancement of the computer technology and engineering software, which allows soilstructure interaction to be analyzed economically, the concept of spring constant is still widely used inanalyzing raft and pile raft foundation. This paper first reviews the spring constant concept, itslimitation and the misused of the value in evaluating building foundation. Finally, a case study on abuilding, soil and tunnels interaction is given as an example of solving a soil structure interactionproblem by using geotechnical finite element software.

full paper can be downloaded at: 010307-Spring Constants & SSI_2001

17
Mar

Don’t rely on Correlation Alone!!

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Motivational

-MINTA TEST TANAH TAMBAHAN-

Usahakan minta dari owner untuk melakukan test tambahan. Korelasi atau feeling atau judgment memang bisa dipakai, tetapi feeling dan korelasi bisa salah. Jadi saya pribadi selalu berusaha meyakinkan owner untuk melakukan test.

Saya bilang, tanah bapak sakit jantung tidak bisa saya periksa pakai stetoskop saja (SPT), tidak bisa pakai EKG saja (Test UU), saya perlu treadmill (Test CU), atau bahkan perlu Kateter (test CD, test piezocone atau pressuremeter dan lain2 yang perlu).

Jadi kita engineer yang waktu sekolah (atau bahkan sekarang) baik langsung atau tak langsung mengaku lebih pintar dari orang ekonomi (yang sekarang jadi owner owner), masa menyerah sama mereka di bidang kita sendiri? dan tidak bisa meyakinkan mereka? Kita perlu belajar ilmu ekonomi untuk “mengalahkan” mereka. Kata Sun Tzu, tahu kekuatan lawan tahu kekuatan sendiri maka niscaya perang akan kita menangkan.

-Paul STG-February 19, 2011
Saya tunggu2 keluar juga statement yg saya suka .. =)

“Jadi kita engineer yang waktu sekolah (atau bahkan sekarang) baik langsung atau tak langsung mengaku lebih pintar dari orang ekonomi (yang sekarang jadi owner owner), masa menyerah sama mereka di bidang kita sendiri? dan tidak bisa meyakinkan mereka? Kita perlu belajar ilmu ekonomi untuk “mengalahkan” mereka.”

Tapi bagaimana pak Gouw … tau tau trima hanya laporan saja, sampel tanah sudah kering dan habiss di sikat classification test di lab… Sample yg hanya dikit itu memangnya masih disimpan sama lab..he3

Sebagai intropeksi saja, berapa dari kita disini yg memang terlibat geotechnical engineering mulai dari soil investigation?? saya pikir masih minim. Klo pak Gouw sih enak sudah punya royal customer .. klo yg baru bersaing mana bisa bilang gitu .. Yg pegang kartu as tetap client.. Klo anda tidak bisa, masih banyak konsultan lain yg bisa atau dibisa2kan. Toh gedung2/jembatan2 di JKT masih baek2 aja =) Tapi baru tuh kemaren kejadian sheetpile yg di dekat roxi mas, jakarta barat.

Berapa dari kita yg selalu mau additional soil investigation? saya pikir juga kebanyakan mikir 3-4kali. Jadinya ya kebanyakan engineering judgement saja =)… toh sudah cukup terlindungi dengan Safety Factor yg 3 itu .. he3.

-Gouw’s answer-February 19, 2011
Pak Paul dan rekan rekan yang saya hormati, Memang sulit pak, tapi disitulah tantangannya!! Apakah meyakinkan owner itu lebih susah daripada disuruh mikir geoteknik?

Menurut saya pribadi Geoteknik itu jauh lebih mudah dipelajari daripada belajar meyakinkan orang.

Disitulah letaknya keunggulan orang-orang ekonomi, sampai ada konglomerat yang pernah bilang sama saya: “Kalian ini engineer sama saja dengan kuli, bedanya kalau kuli jual tenaga, kalian kuli pintar jual otak.” Nah, coba bayangkan, saya pernah dengar langsung kata-kata itu dari seorang konglomerat yang sekarang sudah almarhum. Saya dengar itu pada tahun 1985. Perhatikan apa yang dikatakan dia, intinya dia mengatakan engineer itu kuli. Apa artinya? Bisa dibeli, satu gak mau ada yang lain. Dia pakai teori divide at impera, engineer diadu, ditender, dibilang si A bisa segini, masa you gak bisa. Si B bisa design tanpa data lengkap, masa you gak bisa. Si C bisa dengan harga murah dan data minim, masa you yang lebih pintar tak bisa…. dst….dst….

Dulu sebelum tahun 98 saya paling anti sama ekonomi, peduli apa kata orang ekonomi, yang ada di kepala saya adalah GEOTEKNIK GEOTEKNIK GEOTEKNIK!!!

Setelah krisis dan rusuh 98, saya berpikir, apa yang salah, kok tiba2 dunia seolah rontok, rupiah tiba-tiba nyungsep sampai 6 kali lipat terhadap US dollar. Asset saya (dan tentunya) kita semua yang masih cinta rupiah dan pegang rupiah menyusut tajam. Di luar negeri kita tidak dianggap, di Singapore lihat kita dari Indonesia seolah kita pengungsi yang gak punya duit, kenalan di telpon gak nelpon balik, mungkin mereka kuatir dimintai bantuan, sampai ada teman saya bilang: “Dulu kita ke Singapore naik taxi terus, sekarang uang satu dollar jatuh menggelinding gua kejar kejar…. sedih deh”.

Nah disitu saya juga dapat tawaran ambil PhD geoteknik, tapi saya pikir kalau PhD terus bagaimana biaya hidup anak2, sementara tabungan menyusut drastis, juga penasaran ingin tahu apa yang terjadi dengan ekonomi, maka dari itu saya ambil jalur belajar ekonomi, ambil yang namanya: Chartered Financial Consultant. Belajar sendiri, terus ujian sampai dapat gelar ChFC. Saya tidak menyesal, saya merasa belajar banyak, belajar ilmu orang ekonomi, walau tentunya tidak se-expert mereka yang betul betul ahli ekonomi, tapi minimal tahu ilmu mereka, dan belajar ilmu HOW TO SELL YOURSELF.

Sejak saya lulus ChFC, saya tidak mau lagi ikut yang namanya tender. Bila ada undangan proyek konsultasi atau pekerjaan geoteknik spesial, saya tidak mau ikut tender, saya bilang, kalau tender saya tidak mau. Direct negotiation ok. Melawan arus? Kalau kita engineer tidak berani melawan dan berjuang memperjuangkan nasib sendiri siapa yang mau membela kita? Coba bayangkan, kalau kita mau beli rumah, terus kita bilang: Hai para developer saya mau rumah tipe x, tolong anda tender, atau kalau kita sakit: hai dokter saya mau periksa nih, tolong anda tender, atau ke notaris: hai notaris saya mau beli tanah nih, tolong anda tender ongkos urus surat akta-nya. Atau: Hai Bankir, saya mau pinjam uang untuk kredit rumah nih, kalian tender yah, dan bilang juga dokumen tendernya beli yah (kan kita sering disuruh beli dokumen tender) ya gak? Bisa gak? Cuma kita kan yang mau saja diadu, sesama engineer mau saja diadu. Nah itu dia sebabnya sang konglomerat bilang kita kuli!!!
Nah, sekarang balik lagi, bagaimana setelah saya gak mau ikut tender? Apa proyek saya berkurang? Mungkin iya, tapi saya menjadi manusia yang lebih bebas, dan toh, tetap ada bagian rejeki di dunia geoteknik. Saya selalu berusaha belajar dan membaca buku ekonomi, buku self improvement (Bukan hanya buku ground improvement…he…he…) dan bahkan mengajar motivational dalam beberapa kesempatan. Saya bisa cerita panjang lebar soal ini.

Nah akhirnya: Alam mengajarkan kita bahwa untuk maju perlu tekanan! Lihat gunung tertinggi di dunia, Himalaya dengan puncaknya Everest. Sebagai orang geoteknik, kita tentunya semua tahu, itu akibat tekanan yang diterimanya paling besar dari segala gunung, maka dia menjulang tinggi. Jadi jangan menyerah pada tekanan dan kesulitan meyakinkan owner, mari kita sama-sama memperjuangkan nasib engineer, khususnya geotechnical engineer! Kalau tidak, bagaimana kita bisa beli software asli? Wong soil test saja sekali sondir cuma Rp. 150,000.- kan sedih!!

Maaf yah, kalau ada yang kurang berkenan.

—end—

17
Mar

Soil Stiffness For JAKARTA Silty And Clayey Soils

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in GTL Paper

ABSTRACT: The upper layer of Jakarta soil is mostly silty and clayey types, which is very compressible and very sensitive to the loads applied that could caused damages to the building. These problems are usually not caused by the strength but more on the deformation properties of the soil. This research is aim to help the engineers in predicting the soil deformation modulus by getting the right E-value from an empirical correlation.

In this research, data are collected from the soil investigation companies in Jakarta. The excel spreadsheet program was used in data processing and also to develop the correlation to find the E-value. At the end of the research the relevant conclusion were drawn to get the proposed correlation between E vs N value and E vs PI.

full paper: Soil Stiffness For Jakarta Silty and Clayey Soils

Geotechnical Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer