Code of Practice for Engineers

Berikut ini adalah kode etik seorang CPEng (Chartered Professional Engineer) di Australia, yang sangat bagus untuk dicerna (yang dalam bahasa Indonesia ditulis oleh Hendra Jitno dan ditambahkan oleh Gouw TL)
1. Demonstrate integrity

1.1. Act on the basis of a well-informed conscience

Membuat keputusan berdasarkan informasi yang lengkap, objektif dan berdasarkan nurani yang bersih, serta memikirkan akibat-akibat buruk yang bisa terjadi kalau keputusannya ternyata salah. Cara termudah adalah dengan mengikuti kaidah-kaidah praktis terbaik (best practice) yang berlaku dan diterima umum di dalam profesinya masing-masing. Disamping itu integity juga berarti harus berani menolak segala bentuk KKN.

1.2. Be honest and trustworthy

Jujur terhadap diri sendiri dan memegang amanah, baik amanah dari rakyat banyak atau amanah dari pemberi kerja. Dalam hal ada bentrokan (conflict of interest) kepentingan antara kepentingan masyarakat banyak dan pemberi kerja, maka melindungi kepentingan masyarakat (keselamatan pekerja misalnya) harus didahulukan. Jujur dalam masalah kemampuan dan juga masalah biaya.

Ingat: Kepentingan masyarakat harus diutamakan! Bukan kepentingan pemberi tugas semata-mata.

1.3. Respect the dignity of all persons

Tidak boleh merendahkan harkat orang lain. Harus menghargai setiap orang, tak perduli umur, gender, ras, agama, tingkat pengetahuan, atasan atau bawahan, pemberi tugas atau yang diberi tugas, atau embel-embel sosial lainnya.
2. Practice competently

2.1. Maintain and develop knowledge and skills

Selalu menjaga dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya (Continuing professional development). Prinsip a life long learning harus dilakukan disini. Tetap belajar dan meningkatkan kemampuan/kompetensi diri sendiri.

2.2. Represent areas of competence objectively

Hanya berpraktek dalam bidang yang dikuasainya saja, misalnya: ahli geoteknik jangan sok ahli dalam bidang struktur/hidrologi/lainnya, begitu juga sebaliknya. Kecuali sang ahli geoteknik tersebut juga memang ahli dalam bidang lainnya itu. Bila hanya berpengetahuan terbatas dalam bidang tertentu, tidak ‘berpura-pura’ menjadi ahli dalam bidang tersebut.

2.3. Act on the basis of adequate knowledge

Mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang cukup tentang kondisi lapangan, tidak sembrono dan tidak menggunakan data yang tidak memadai untuk berpraktek dan harus selalu obyektif.
3. Exercise leadership

3.1. Uphold the reputation and trustworthiness of the practice of engineering

Selalu menjaga nama baik profesi dengan menjunjung kode-kode etik praktek enjineering.

3.2. Support and encourage diversity

Menghargai perbedaan pandangan (namun harus tetap objektif, dan berani mengatakan mana yang salah dan mana yang benar).

3.3. Communicate honestly and effectively, taking into account the reliance of others on engineering expertise

Berinteraksi secara profesional dengan bidang lain dan menyerahkan penanganan masalah yang ada ke para ahli di bidangnya masing-masing. (Mirip dg point 2.2).
4. Promote sustainability

4.1. Engage responsibly with the community and other stakeholders

Bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kepentingan lainnya.

4.2. Practice engineering to foster the health, safety, and well being of the community and the environment

Mempraktekkan enjineering untuk membangun kesehatan, keselamatan, kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan (contoh: membuang tailings atau sampah-sampah penambangan ke sungai atau laut merupakan praktek yang tidak menjaga sustainabilitas lingkungan dan akan membuat generasi mendatang saudara-saudara kita setanah air yang tinggal di daerah penambangan misalnya di Kalimantan, Sulawesi, Irian dan lain-lain menderita. Karena itu praktek yang merusak lingkungan harus dihentikan sesegera mungkin).

Sustainabilitas (ketahanan) tidak hanya berarti menjaga lingkungan, tetapi engineer juga bertanggung jawab terhadap ketahanan profesi enjineering. Hal ini juga berarti bertanggung jawab terhadap masalah harga. Misalnya, harga-harga test lab dan lapangan di Indonesia sudah terlalu rendah dan sangat mengancam sustainabilitas profesi perusahaan pemberi jasa test lapangan dan lab. Tidak adanya sertifikasi yang menyeterakan kualitas hasil test tanah di Indonesia merupakan salah satu masalah yang ada. Persaingan yang tidak sehat antar engineer dengan saling membanting harga merupakan contoh tindakan yang tidak bertanggung jawab. Saling membanting harga membuat kualitas merosot! KALAU BUKAN ENGINEER YANG MEMPERJUANGKAN NASIBNYA SENDIRI (KETAHANAN PROFESINYA SENDIRI), LALU APAKAH ADA ORANG LAIN YANG AKAN MEMPERJUANGKANNYA? SADARLAH HAI PARA ENGINEER! JANGAN SAMPAI KITA CUMA DIADU DOMBA OLEH YANG NAMANYA TENDER.

4.3. Balance the needs of the present with the needs of future generations

Menjaga keseimbangan kebutuhan/keperluan masa sekarang dengan kepentingan generasi mendatang. Tidak mengekspoitasi semua sumber daya alam untuk kebutuhan generasi sekarang. Ingat juga kebutuhan anak-anak dan cucu-cucu kita. Mereka juga butuh sumber daya alam yang sama dengan kita. Juga jangan bebani mereka dengan hutang (negara) yang banyak.

Semoga bermanfaat,

Salam untuk semua,

Haje dan Gouw

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Geotechnical Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer