28
Feb

GELAR

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Education, General, Geotechnic, News and Opinion

Apalah artinya sebuah gelar apabila di keplamu kosong. Dan apalagi artinya sebuah gelar kalau merasa kepala banyak isi tapi prakteknya ngawur, SALAH SANA SALAH SINI?? Salah satu contoh masa hasil Analisa menghasilkan FK Gempa lebih besar dari FK Statik (FK= Faktor keamanan), ini dikerjakan seorang pengajar bergelar S3 loh.

Di Indonesia kita pasang semua gelar dari S1 sampai S3 plus keanggotaan.

Contoh, kalau dipasang semua nih nantinya

Prof. Dr. Ir. MabokGelar ST. M.Eng, ChFC, HATTI, HAKI, PII, STRI, SKA, IPTB DKI, IPTB JABAR, SEAGS, ISSMGE.

Nah loh… Bukankah kalua sudah S3 berarti sudah ada gelar S1 S2. Jadi gelar S1 dan S2 gak perlu dipasang lagi. Kalau sudah Profesor artinya pasti sudah adah S1 s.d S3 jadi gelar S1 sampai S3 gak perlu dipasang lagi.

Padahal di luar negeri kalau masih satu jurusan maka sesudah S3 gelar S1 S2 tidak lagi dipasang, sesudah prof gelar S3 juga gak dipasang lagi. Juga keanggotaan dan profesional engineer nya tidak dipasang lagi. Kalaupun dipasang maka keanggotaan asosiasi profesi itu tidak dipasang di belakang nama. Tetapi di bawah nama, jadi ditulis nya begini:

Prof. LAPARILMU, ChFC

Professional Engineer

M.SEAGS, M.ISSMGE, M.HATTI, M.HAKI


Kalaupun professional engineer nya dipasang di belakang nama maka jadi:

Dr. LaparIlmu P. Eng.

atau

Prof. LaparIlmu P. Eng

Nah…. Loh…. kita mau adu panjang gelar kah? Atau adu dalam ilmu??

Maaf ya, apakah sekolah keinsinyurannya mengajarkan ilmu-ilmu teknik canggih? Atau hanya etik dan administratif plus belajar menulis pengalaman engineering?

GTL, 210130

28
Feb

HASIL SEKOLAH SIPIL??

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Education, General

Pengalaman berkata begini:

Yang sekolah SIPIL nya pintar2 ya akhirnya jadi “TUKANG INSIYUR” ups gak boleh pakai insinyur katanya, Jadi “Tukang ST” bahasa paling kerennya “entrepreneur” konsultan. Yang sekolahnya biasa-biasa saja, bakal naik di manajemen dengan penghasilan lebih besar dari “Tukang ST”, yang drop out bisa jadi akhirnya jadi paling kaya.

Beberapa teman SMA saya, ada yang lulus kuliah S1 ada yang tidak kuliah sama sekali. Nyatanya jauh lebih berduit dari pada saya yang sering juara umum….. ha ha ha….

Ada teman yang sudah punya perusahaan komputer besar, tahun 1989, tanya begini: “Gaji loe berapa sekarang?” jawab: “1.25 juta, loe pasti jauh lebih besar lah hasilnya.” Dijawab lagi sama si pengusaha komputer itu: ” yah, gak banyak juga, sebulan paling sialnya ya nett 90 juta lah.” 🙁

Dan ada bibi saya yang pernah  bilang begini: Si GaTel sekolah paling tinggi dan paling pintar di seluruh keluarga besar, punya mercy saja kagak. Itu si A yang sekolah cuma SMP sudah punya gedong dan mercy dua!! 😝

Ada lagi yang bilang begini: Kalian ini insinyur insinyur memang pintar, tapi kalian sebenarnya sama dengan KULI, bedanya kuli jual tenaga, kalian jual otak. 🤣

upsss….. pahit? Gak apa2. Tanpa ENGINEER gak akan ada gedung bertingkat, dam, listrik, smartphone dll. Jadi tetaplah berbangga sebagai engineer 🍻(Menghibur dirikah??)

Tambahan:

Itu di atas hanya omongan kenyataan secara umum dalam lingkup penghasilan uang yang mencari uang berdasarkan jualan ilmu sipil, dalam arti “jualan” dengan benar benar memakai teknik sipilnya, artinya jadi konsultan teknik sipil, atau jadi profesional diperusahaan dengan menerapkan keahliannya sebagai orang teknik sipil. Namun perlu juga diketahui banyak juga Entrepreneur, Businessman, yang latar belakang pendidikannya Teknik Sipil, tidak “menjual” ILMU teknik sipilnya tetapi dengan kepandaiaan dan kepintarannya menyebrang menajdi Entrepreneur dan Businessman. Jadi Tidak salah juga sekolah Sipil. Salah satu bukti adalah bisa langsung ambil MBA (nyebrang ke ekonomi) tanpa S1 ekonomi lagi.

GTL, 210120

28
Feb

Dilema Dosen – Tegas – Katrol – Luluskan saja!

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in Education, General

Kalau saya dulu cenderung TEGAS sama mahasiswa, termasuk soal tata tertib. Tetapi ternyata ini merugikan, di universitas yang memakai sistem dimana mahasiswa boleh menilai dosen dan juga dimana ada bagian tersendiri yang berdiri sendiri menilai performance dosen, ini menjadi nilai negatif dan rapor merah buat si dosen. Contoh nilai merah saya (buka saja dan mengaku) dari mahasiswa dan dikasih merah juga oleh admin bagian penilai dosen!

1. Datang terlambat lebih dari 15 menit setelah saya mulai mengajar tidak boleh masuk. Aturan ini saya umumkan sejak hari pertama saya mengajar disetiap mulai kuliah (catatan: saya selalu datang tepat waktu, kalaupun terlambat paling 5-10menit. Praktis tidak pernah absen waktu jam mengajar, tidak pernah meninggalkan jam kulian untuk mroyek).

2. Jam yang oleh kampus ditentukan sebagai jam belajar mandiri, misalnya jadwal kuliah tiap hari Sabtu jam 7-9 pagi, mahasiswa dijadwalkan kuliah mandiri. Nah karena saya melihat jam kuliah kurang dan mahasiswa perlu diberi penjelasan via kuliah itu lebih baik, saya tetap datang mengajar dan  mhsw saya minta tetap datang. Oleh mahasiwa/i yang rajin rajin itu mereka anggap positif. Tetapi ternyata nilai saya juga merah. Barangkali RAJIN MENGAJAR ITU SALAH JUGA. Kerajinan katanya kali yah.

3. Kalau yang lulus sedikit, seperti kata pak Mutadi, repot dosennya. Akan kena merah juga. Pernah dua kali saya beri ujian persis seperti contoh dibuku saya, cuma mengubah angka. Pernah juga saya berikan soal ujian akhir sama persis dengan soal ujian tengah semester. Hasilnya?? Tetap saja persentase lulus tidak berubah banyak!! Salah siapa? Yang jelas dosen juga dapat MERAH kalau mahasiswa banyak yang gak lulus.

No 1 dan no 2 saya jalani sejak 1985 saat saya mulai mengajar. Mungkin antara PERIODE tahun 2014-2017  mulai ada yang kasih merah.

Tahun 2018 terjadi peristiwa yg tidak enak, saya sudah di dalam ada kira2 25 menit, tiba2 satu mahasiswa nyelonong masuk tanpa permisi pula. Saya bilang: “kamu yang terlambat, silakan keluar yah.” Lalu dia melangkah keluar, sampai di pintu dia matikan lampu, hingga ruang kuliah menjadi relatif gelap!!! Saya laporkan peristiwa ini ke bagian admin.

Namun ternyata sang mahasiswa lebih canggih. Seminggu kemudian saya dipanggil dekan. Dan pesan dekan: “Biar sajalah pak, anak millenial memang demikian. Biar saja mereka masuk walau terlambat.” Tercengang saya, dan meng-iya-kan saja deh.

Setelah pengalaman itu semua, saya biarkan saja deh.  Ikut saja dan pura-pura gak lihat si mahasiswa yang terlambat. By the way, Kuliah online saja ada yang terlambat loh!!

Kalau sedikit yang lulus, kasih kuis yang gampang-gampang untuk menambah nilai mereka. Atau kasih ulang ujian dengan kasih take home. Kalau parah banget, terpaksa bawa ke diskusi dengan ketua jurusan dan runding luluskan atau tidak atau bagaimana baiknya. Akhirnya, kalau terpaksa ya dikatrol nilainya. Catatan: umumnya ada sekitar 15-20% mahasiswa yang rajin rajin dan pintar-pintar tidak usah dikatrol sudah dapat A atau B.

Kalau yang dikatrolnya dengan sangat terpaksa, ya kita panggil, kasih nasehat. Didengar syukur tidak didengar ya sudah.

Paling repot kalau sidang skripsi/sidang akhir dimana yang bersangkutan sudah 2 kali ganti judul, dan sudah judul skripsi ke tiga. Kalau gak lulus lagi berarti drop out. Nah dua kali saya dan rekan yang sama, bersama menguji mahasiswa spt ini. Kata teman, kalau tidak diluluskan kita seumur hidup akan diingat dia sebagai “pembunuh” dia. Jadi kami luluskan, namun sebelumnya kami tanya dulu sama si mahasiswa apakah dia merasa dia pantas lulus. Dua-duanya menjawab: “yah belum sih pak!” Lalu kami jelaskan kami tidak mau diingat sebagai “pembunuh”, jadi kami luluskan, dan nasehatkan agar kalau mau tetap kerja di sipil rajin rajin belajar lagi, karena di masyarakat kalau gak lulus ya gak lulus dan tidak akan ada yang meluluskan kamu. Alias kamu bisa dipecat.

Begitulah dilema dosen.

GTL, 210120

Geotechnical Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer