21
Nov

Metode yang Tepat untuk Menghemat

Written by Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD. Posted in GTL Interviews

Majalah Konstruksi,  Nomor 171, Juli 1992

Pada akhirnya memang bukan saja bagaimana menyelesaikan permasalahan teknis tapi bagaimana permasalahan teknis itu bisa diselesaikan secara lebih ekonomis bagi kontraktor. Hal tersebut sangat penting sehingga dalam pelaksanaan suatu proyek kontraktor selalu berupaya mencari metode yang tepat untuk menghemat sebanyak mungkin. Beberapa metode konstruksi yang tepat terbukti telah menghasilkan penghematan yang cukup berarti, seperti diterapkan pada proyek Wisma Kyoei Prince Indonesia (KPI) di Jakarta, yang saat ini masih dalam tahap awal pekerjaan struktur atas.

Proyek Wisma KPI terdiri dari bangunan Tower 26 lantai ditambah 2 penthouse dan 2 basement ditambah dengan bangunan parkir 11 lantai (dengan 2 lantai basement untuk ruang genset). Fungsi bangunan terutama utnuk perkantoran. Luas bangunan keseluruhan 61.200 m2, bangunan parkir bisa menampung 570 kendaraan. Sebagai kontraktor proyek ini adalah Joint Operation antara Toda Corporation dan PT. Jaya Konstruksi MP. Menurut Ir. Bambang Oetomo, Operation Manager JO Toda-Jaya, pelaksanaan proyek ini dimulai 5 Agustus 1993 (27 bulan). Sekarang pelaksanaan proyek untuk bangunan parkir sebagian masih dalam tahap penggalian dan sebagian lagi sudah pekerjaan struktur atas.

Pondasi bangunan, baik untuk bangunan parkir dan perkantoran, menggunakan tiang bor diameter 1 m (untuk perkantoran) dan 80 cm (untuk gedung parkir). Kedalaman tiang pada bangunan perkantoran 43-45m, sedangkan pada bangunan parkir 39-40m. untuk bangunan perkantoran, di atas tiang pancang dibuat raft setebal 2,5m.

Seperti dikemukakan oleh Bambang, yang dalam wawancara dengan Konstruksi didampingi oleh Ir. Moeryono (dari Toda Jaya JO) dan Ir. Gouw Tjie Liong M.Eng. (Direktur PT Limara), ada 3 hal pendting dalam proyek ini yang bukan saja khusus secara teknis, tapi juga telah menghasilkan penghematan yang berarti. Yaitu berkaitan dengan penggalian (dengan sistem dewatering), pengecoran raft dan sistem pendinginan plat raft yang diperkirakan baru pertama kalinya diterapkan di Indonesia.

Galian Open-Cut dengan Dewatering

Sebagaimana dikemukakan di atas, Wisma KPI memiliki basement 2 lantai baik untuk bangunan perkantoran dan parkir. Untuk itu dilakukan penggalian 9 m di gedung parkir dan 9,8 m di gedung perkantoran. Menurut Bambang, dalam desain awal untuk penggalian basement tersebut diperlukan struktur penahan tanah dengan soldier-pile di sekeliling site, dengan pertimbangan untuk mencegah kemunginan gangguan pada badan jalan Jenderal Sudirman, akibat penggalian. Dalam pelaksanaan dilakukan modifikasi, dengan menghilangkan sebagian besar soldier-pile, kecuali yang berdekatan dengan gedung Prince I (yang menggunakan pondasi dangkal), dan galian dilakukan secara terbuka (open cut) tapi menggunakan sistem dewatering yang ekstensif. Dan hasilnya, bisa dihemat sekitar 120 soldier pile.

Menurut Gouw, dewatering tidak sama dengan pemompaan air (pumping out). Pemompaan air, memang bisa dilakukan oleh setiap orang, karena pekerjaan ini hanya memompa air tanah tanpa memperhitungkan efek geoteknisnya. Sedangkan dewatering, tidak sekedar memompa air, namun memperhitungkan masalah seepage atau perembesan air tanah ketika proses pemompaan air. Seepage bisa merusak struktur tanah, baik pada dinding lereng galian maupun dasar galian, seperti : heaving atau boiling. Dalam dewatering juga memperhatikan pengaruhnya terhadap sekitarnya, sehingga untuk mengatasinya bila perlu dibuat sumur resapan (recharge-well).

Diakui oleh Gouw, dewatering memang relatif tidak perlu dilakukan secara ekstensif jika di sekeliling galian dibuat struktur penahan tanah yang bisa mencegah terjadinya seepage. Itu dilakukan dengan membuat soldier-pile atau sheet pile tersebut betul-betul kedap air, dan kedalamannya sedemikian sehingga sampai ke lapisan tanah yang permeabilitasnya sangat kecil atau relatif kedap air. Hal tersebut tidak selalu ekonomis dilakukan, karena pembuatan struktur penahan tanah seperti itu cukup mahal. Sehingga seperti yang dilakukan pada proyek Wisma KPI, dengan melakukan dewatering yang ekstensif maka galian bisa dilakukan secara terbuka dan dalam kondisi kering.

Pekerjaan dewatering yang dilakukan oleh PT. Limara dalam proyek ini, menurut Gouw, dilakukan secara bertahap. Mula-mula dilakukan untuk bangunan perkantoran, kemudian disusul untuk bangunan parkir. Pada bangunan parkir, dibuat 8 sumur pompa (pumping well) dengan diameter 8 inch dan kedalam 20 m, di samping 3 observation well yang ditempatkan di daerah galian (2 buah) dan di luar galian dekat Jalan Sudirman (1 buah). Di sini muka air tanah berada pada -7 m dari existing-ground level.

Pekerjaan dewatering dilakukan seminggu sebelum dilakukan penggalian, dan permukaan air tanah dijaga berada pada kedalaman 11-12 m di bawah permukaan tanah asal, dengan demikian pada saat penggalian tanah sudah dalam keadaan kering. Dewatering dilakukan selama 24 jam terus menerus, selama 5 bulan. Lamanya dewatering, menurut Gouw, ditentukan oleh pekerjaan struktur atas bangunan, karena dewatering akan dihentikan jika gaya uplift terhadap bangunan sudah bisa diimbangi oleh berat struktur bangunan itu sendiri. Dan dalam kasus proyek ini, dewatering dihentikan ketika lantai 3 sudah selesai dicor.

Pekerjaan galian ini dilakukan setelah pembuatan tiang bor. Slope galian dibuat 450, kecuali di dekat bangunan Prince I yang menggunakan dinding penahan dari soldier-pile yang diperkuat dengan ground-anchor (1 layer). Dalam menjaga permukaan air tanah ini, menurut Gouw, di samping harus selalu berada di bawah permukaan dasar galian, juga harus selalu di bawah lereng galian. Sehingga bisa dicegah terhadinya perembesan air lewat lereng galian yang bisa merusak stabilitas lereng tersebut. Dengan menurunkan permukaan air tanah pada proses dewatering, effective stress tanah bertambah dan shear strength meningkat, akibatnya keamanan dari stabilitas lerengnya bertambah juga. Itu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan bisa dilakukannya penggaliaan secara open-cut.

Dewatering pada bangunan parkir diperlukan lebih banyak sumur pompa, karena disitu di samping muka air tanah yang lebih tinggi (-3,5 m) juga karena permeabilitas tanahnya lebih besar. Di sini digunakan 12 sumur pompa dan 3 observation well. Pekerjaan dewatering sudah sudah dilakukan 2 minggu sebelum penggalian dimulai. Pada saat Konstruksi meninjau ke proyek pertengahan Juni lalu, pekerjaan dewatering di bangunan parkir ini masih dilakukan, sementara pekerjaan penggalian dan sebagian struktur atasnya sudah mulai dikerjakan. Dalam dewatering ini, karena harus dulakukan terus menerus, perlu diperhatikan tentang kemungkinan kerusakan pompa, sehingga perlu cadangan pompa, di samping sumber daya listrik yang terjamin kesinambungannya. Lamanya, luas areal, dan sistem yang digunakan merupakan hal-hal yang sangat menentukan biaya dari dewatering. Tapi secara kasar, menurut Gouw, dalam pekerjaan dewatering di proyek Wisma KPI ini tidak ada masalah yang berarti. Gedung Prince I hanya turun dua milimeter saja, dan gedung lain di sekitarnya yang menggunakan pndasi dalam tidak mengalami pengaruh yang berarti. Yang paling dikhawatirkan sebenarnya justru kemungkinan klaim dari penduduk sekitar karena airnya disedot (setiap sumur pompa dalam dewatering itu menyedot sekitar 300 l/menit), namun yang terakhir itu ternyata juga tidak terjadi.

Struktur atas bangunan perkantoran yang sudah mencapai lantai 4 dan di latar depan adalah pekerjaan pada bangunan parkir yang masih menggunakan dewatering

 

Pengecoran Raft

Pada bangunan perkantoran dibuat raft setebal 2,5 m dengan ukuran 35,4m x 41,5m atau dengan volume beton 37,00 m3, dan mutu beton K400 (slump 12 cm). Dalam pengecoran struktur beton yang masif ini , dilakukan secara kontinyu selama 29 jam. Yang menarik adalah, pengecoran tidak dilakukan menggunakan concrete-pump, tapi menggunakan sistem tradisional dengan talang (chute) sebanyak 2 buah. Setiap jam dicor rata-rata sekitar 100 m3 beton. Pengecoran dengan sistem konvensional itu, menurut Bambang, cukup menghemat banyak. Karena kalau menggunakan concrete pump diperlukan sekitar 8 unit, yaitu 5 bekerja dan 2 cadangan. Adapun sewa 1 unit concrete-pump setiap jamnya sekitar Rp 500 Ribu. Lumayan.

Akibat tebalnya slab beton untuk raft, maka akan terjadi perbedaan temperatur yang cukup besar antara beton yang ada di bagian bawah dengan beton yang ada di permukaan yang kalau tidak diatasi bisa menyebabkan thermal-cracking. Berbagai cara untuk mengurangi perbedaan temperatur tersebut. Salah satu cara yang konvensional, menutup permukaan beton agar air beton tidak cepat menguap. Biasanya dengan menutup permukaan beton dengan lapisan pasir setebal 50-70 cm. Tapi menurut Bambang, cara tersebut kurang praktis, karena akan menghambat kelancaran kerja di atasnya. Maka kemudian dipilih metode lain. Di pertengahan slab beton dipasang pipa pipa dengan diameter 2½ inch dengan jarak 125cm, yang dihubungkan dengan pipa yang lebih besar (diameter 6 inch) yang mengelilingi areal slab yang akan di cor. Kedalaman pipa-pipa itu disirkulasikan air dingin, yang berfungsi untuk menurunkan suhu beton di dalam slab, sehingga menurunkan perbedaan temperatur pada slab. Sirkulasi air dilakukan dengan pompa kapasitas besar (kapasitas 2000-3000 l/menit dengan head 20 m) milik PT Limara, yang dilakukan terus menerus selama satu minggu. Yang cukup unik disini, air untuk sistem pendinginan beton tersebut memakai air hasil dewatering yang volumenya berlimpah. Gagasan pemanfaatan air hasil dewatering itu, menurut Gouw, merupakan hasil pembicaraan informal antara Gouw dan pihak Toda Jaya, JO, yang kemudian ternyata diterapkan.

Pelaksanaan pengecoran raft setebal 2,5 m, menggunakan talang dengan external-vibrator

Menurut Moeryono, dengan sistem itu suhu tertinggi beton yang mencapai 850 C bisa diturunkan hingga 65C, sehingga perbedaan temperatur hanya sekitar 30 derajat, lebih kecil dari yang dipersyaratkan (yaitu 50 derajat). Pipa-pipa untuk sirkulasi itu dibiarkan tanpa grouting, dan secara struktural adanya pipa-pipa tersebut bisa dianggap sebagai penambahan tulangan. Ini diperkirakan merupakan sistem pendinginan beton pertama yang diterapkan di Indonesia.

Trackback from your site.

Gouw Tjie Liong, Ir., M.Eng, ChFC, PhD

Mr. Gouw is a certified Professional Geotechnical Engineer. He has been working in the field of Geotechnical Engineering since 1984. His expertise covering geotechnical investigation, soil intrumentation, deep foundation and excavation for high rise buildings, pile load testing (Static and PDA), pile integrity testing (PIT), sonic logging test, vibration monitoring, slope stability, ground anchors, pumping test, dewatering, micropiles, tunnelling and ground improvement works, e.g. dynamic compaction, vertical drain, vibro-compaction, geosynthetic and grouting. The jobs cover more than 180 projects in Indonesia, Singapore and Srilanka. He has a great passion in the teaching and disseminating of geotechnical engineering knowledge. He serves as lecturer since late 1984. Currently, he serves as a senior lecturer at Bina Nusantara University, Jakarta, Indonesia. He also conduct regular geotechnical training for engineers. He also chaired the Indonesian Chapter of International Geosynthetics Society since 2006. He has published 80 papers and 22 technical notes.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Geotechnical Course

  • Soil Mechanis
  • Soil Investigation
  • Foundation Engineering
  • PIT, PDA, Sonic Logging
  • Slope Stabilization
  • Geotechnical Instrumentation
  • Deep Excavation
  • Ground Improvement
  • Geotechnical Instrumentation
  • Earthquake
  • Liquefaction Analysis
  • Application of Geotechnical Software
  • Other Geotechnical Course

Learn more

Motivational Course

  • Cultivating Engineering Judgment
  • The Problem of Engineer
  • How I Present Myself
  • Light Up
  • Toward Successful Engineering Career
  • Pressure lead to Success
  • The Up and Down of My Life
  • Theory of Emptiness
  • Turning Thought into Reality
  • Young Engineer